Tuesday, January 14, 2020

Makna Dibalik Pertunjukan Wayang Bagi Masyarakat Jawa

Pertunjukan Wayang Kulit

Sudah banyak ilmuwan budaya yang mendefinisikan pertunjukan wayang. Setiap definisi yang ditawarkan, tidak ada satu pun yang bersifat mutlak, bergantung dari aspek mana si ilmuwan memaknai pertunjukan wayang, apakah dari aspek literal, kultural atau spiritual.

Namun ada satu kesepakatan dari alam bawah sadar yang tidak dapat diganggu gugat, bahwa pertunjukan wayang merupakan pertunjukan teater tradisi Jawa yang memainkan bayang-bayang. Tidak peduli apakah dinikmati dari depan maupun belakang kelir.

Van der Tuuk dan Brandes menyalin prasasti tembaga yang ditemukan di Bali, hasil salinan menunjukkan prasasti tersebut berasal dari tahun 1058 M, di dalamnya tertulis "...hanabawal atapukanaringgit". Kata ringgit hingga saat ini masih menjadi sinonim dari wayang (Sri Mulyono,1982).

Secara lebih mendetail, Timbul Haryono, 2008, menyatakan bahwa pertunjukan wayang telah muncul sejak abad 9 M. Dapat ditelusuri melalui prasasti Kuti 840 M yang memuat istilah 'haringgit'. Sementara padanan kata untuk 'ringgit' bisa dijumpai di prasasti Tajigunung 910 M.

Di dalam prasasti Tajigunung, istilah 'haringgit' digunakan secara bergantian dengan 'awayang'. Informasi lebih lengkap terkait wayang, dihadirkan oleh prasasti Wukajana dari abad 10 yang menuliskan kalimat "...mawayang bwat hyang" (Timbul Haryono, 2008).

Berdasarkan teknis penyajian pertunjukan wayang yang penuh dengan kompleksitas, maka sudah tepat Jan Mrazek, seorang peneliti wayang dalam kaitannya dengan media teknologi dari NUS (National University of Singapore), menyatakan bahwasanya:

"...wayang is the most important and highest form of Javanese art, one that express central tenets of Javanese culture and worldview, and they celebrate the 'multimedia' nature of wayang, the way it combines painted and carved puppets, verbal arts, complex movement, and music." (Jan Mrazek & Morgan Pitelka, ed, 2008, What's The Use of Art? Asian Visual and Material Culture in Context).

Berikut terjemahan bebas kalimat di atas: Wayang adalah bentuk seni Jawa yang tertinggi dan paling penting, yang mengekspresikan prinsip sentral budaya dan pandangan dunia Jawa. Dan mereka merayakan sifat 'multimedia' wayang dengan cara menggabungkan wayang yang dilukis dan diukir, seni verbal, gerakan kompleks dan musik.

Sri Mulyono, yang mengutip dari Over de Oorsprong van Het Javaansche Tooneel, 1931, W.H. Rassers, percaya bahwa wayang adalah pertunjukan ajaib. Sebuah sintesa kebudayaan manusia yang tidak mungkin dijumpai di belahan dunia lain.

Terkait fungsi, pertunjukan wayang yang lebih komperhensif, Douglas Storey, 2009, dalam artikelnya di Asian Journal of Communication berjudul Mythology, Narrative, and Discourse in Javanese Wayang Towards Cross-Level Theories For The New Development Paradigm, menguraikan pertunjukan wayang ke dalam wilayah: Hiburan, edukasi/Propaganda, ritual/upacara, ekspresi kebudayaan, transmisi sosial/sosialisasi dan koneksi sosial.

Douglas Storey mendasarkan rumusan fungsi pertunjukan wayang pada pendapat jalinan makna budaya, bahasa dan kebiasaan yang diajukan Geertz, serta anggapan citra wayang sebagai refleksi pengetahuan budaya dan ideologi yang diajukan Mangkunegara dan Ben Anderson. Lebih lanjut lagi, Franz Magnis Suseno, 1982, menulis bahwa wayang merepresentasikan keambiguan dan beragam pertentangan dalam hidup.

Nicola Levell menyebut, puppets are storytellers and transporters. They bring the past into present. The supernatural into the real. The satirical into the social sphere in a playful way. Yang kira-kira, begini terjemahan bebasnya: wayang adalah pendongeng dan pengangkut. Mereka membawa masa lalu ke masa kini. Membuat supernatural menjadi nyata. Ia menyampaikan satir ke ranah sosial dengan cara yang menyenangkan.

Apabila ditarik simpulan dari semua pendapat tentang fungsi pertunjukan wayang di atas, maka hasilnya akan bermuara menuju kesadaran bahwa pertunjukan wayang merupakan memori penyimpanan kebudayaan masyarakat Jawa dari masa lampau, yang terus-menerus bermutakhir sesuai jalannya peradaban.

Tak sebatas memori penyimpanan, akan tetapi sebuah sistem yang melekat pada ruang material dan immaterial masyarakat Jawa. Sehingga kalau ditautkan terhadap sebuah konstruksi komputer atau laptop, pertunjukan wayang bukanlah hard disk, melainkan motherboard.

Pertunjukan wayang lazimnya pertunjukan teater modern, bersifat aktif serta responsif. Merekam serta melakukan koreksi atas berbagai peristiwa sosial, ekonomi, politik, lingkungan, hingga mistik. Namun, pertunjukan teater modern tidak akan mampu menyerupai teknik komunikasi layaknya pertunjukan wayang, yang sanggup melintasi sekat dimensi sosial bahkan dimensi kehidupan antarmakhluk.

Merujuk pada statement Ki Mantep bahwa pakem bukan harga mati. Maka boleh saja pertunjukan wayang dimodifikasi, melahirkan jenis-jenis pertunjukan wayang kontemporer yang nganeh-anehi, seperti adanya Wayang Bocor, Wayang van Java, Wayang Komik dan lain sebagainya.

Kehadiran rupa-rupa kontemporer tersebut nyatanya tidak pernah mampu menjadi representasi sejati masyarakat dan hanya bertahan dalam satu kurun waktu momentum belaka. Semata mengemas estetika wayang yang diselaraskan terhadap tuntutan modernisme, tapi melupakan unsur paling mendasar pertunjukan wayang, yakni peran pertunjukan wayang selaku indikator sekaligus motherboard budaya Jawa.

Di dalam rangkaian utuh pertunjukan wayang, bisa dilihat sebuah garis kronologis imajiner peradaban masa Jawa kuno yang berharmoni dengan masa Jawa modern saat ini. Mulai dari bahasa, guyonan, sampai tata cara bersikap, pertunjukan wayang menyimpan semua anasir kebudayaan di masing-masing peradaban.

Mungkin contoh yang paling tepat untuk mewakilkan pernyataan di atas adalah pertunjukan wayang Ki Seno Nugroho. Secara pribadi. saya menilai sajian wayang Ki Seno berbeda sekali dengan teknis penyajian Ki Sudjiwo Tejo yang, entah sengaja atau tidak, semata menyasar kawula muda, merombak tatanan pakem cerita wayang, lalu membuat sanggit secara ekstrem sehingga agak kurang digemari orang-orang tua.

Sedangkan Ki Seno menghadirkan pertunjukan wayang yang benar-benar seimbang. Ia tahu di mana harus menempatkan 'kebaruan' dan di mana menempatkan pakem tatanan. Hasilnya, Ki Seno diterima oleh banyak kalangan, baik dari kawula muda maupun orang-orang usia tua.

Menjaga pertunjukan wayang

Seperti yang telah dikemukakan, pertunjukan wayang menyimpan ingatan kolektif kebudayaan masyarakat Jawa. Orang boleh lupa bagaimana cara hidup yang berbudaya Jawa, namun orang tidak perlu khawatir akan kelupaan-nya, karena bisa sewaktu-waktu mengakses memori kebudayaan yang terlupa dengan cara menonton motherboard (pertunjukan wayang).

Layaknya kain yang senantiasa kering, itulah wayang. Menyerap dan lalu menyimpan segala macam ideologi serta budaya masyarakat. Tidak percaya kalau pertunjukan wayang juga menyimpan ideologi? Cari saja di internet pertunjukan wayang yang digelar PKI pada tahun 50'an dengan membawa lakon Gusti Sampun Seda (Geertz, 2014).

Oleh karena pertunjukan wayang menyimpan bahasa, etika, ideologi, spiritual, teknologi dan budaya Jawa, maka pertunjukan wayang juga berposisi sebagai 'sumber air' kebudayaan Jawa. Seandainya pertunjukan wayang terlalu dimodifikasi dan mencampakkan pakem-pakemnya, bukan tidak mungkin hal itu menjadi tanda bahwa budaya Jawa mengalami destruksi.

Selebihnya, andaikata pertunjukan wayang tidak lagi ada, maka itu adalah tanda pasti matinya intelektualisme kebudayaan Jawa. Melalui maraknya penggunaan Youtube dan sosial media, para dhalang secara cerdik mengunduh pertunjukan wayang yang ia mainkan. Atas dasar tujuan ingin mengamankan motherboard budaya Jawa. Sehingga dapat diakses sewaktu-waktu oleh masyarakat Jawa yang ingin mengakses isi motherboard budaya Jawa itu.

Tanpa adanya tindak preventif semacam itu, bisa jadi masyarakat sama sekali kehilangan jejak akan kebudayaannya sendiri. Menjaga pertunjukan wayang tidak hanya menjadi tanggung jawab dhalang beserta kru, akan tetapi tanggung jawab masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jawa, seutuhnya.



Alas Purwo, Kerajaan Lelembut di Tanah Jawa


 Penghuni Gaib Alas Purwo
Keberadaan tempat wisata religi Alas Purwo Banyuwangi, merupakan salah satu taman nasional terbesar di Indonesia yang di dalamnya terdapat ribuan fauna dan flora berbagai jenis. Alas Purwo juga disebut tempat wingit karena ada banyaknya misteri tak terpecahkan yang sedari dulu sudah terdengar desas-desusnya. Banyak orang yang sengaja mendatangi tempat wingit ini untuk melakukan ritual-ritual khusus dengan maksud dan tujuan tertentu.

Hutan ini juga dipercaya sebagai tempat berkumpulnya para jin yang tersebar di nusantara dan membentuk kerajaan jin di sana. Konon jika ada orang yang tersesat dan masuk ke kerajaan tersebut, maka dia tidak akan bisa keluar dalam kondisi selamat dan jika pun selamat maka ia akan mendapatkan musibah atau bahkan kecelakaan di kemudian hari. Orang yang meninggal ketika masuk ke tempa twingit ini konon juga tidak bisa ditemukan jasad tubuhnya.

Oleh karena itu, orang-orang yang berani datang ke Alas Purwo diyakini bahwa mereka mungkin sedang mempelajari ilmu gaib atau mungkin akan melakukan pertapaan. Ada 40 goa lebih yang tersebar di dalam hutan keramat ini dan goa-goa itulah yang dipakai sebagai tempat bertapa. Para raja-raja terdahulu juga sering berkumpul, menyepi, ataupun bertukar pikiran di sana.

Tempat Menyepi di Alas Purwo
Di antara goa yang ada di sana, Goa Istana merupakan goa yang paling terkenal karena Presiden RI pertama, Bapak Soekarno, pernah melakukan pertapaan di sana untuk mencari ketenangan. Entah benar atau tidak, cerita yang berkembang di masyarakat dulu hingga sekarang adalah dalam pertapaan yang dilakukan oleh Soekarno, beliau juga bertemu dengan Nyi Roro Kidul, Sang Penguasa Laut Selatan.


Meski disebut Taman Nasional, nyatanya tak semua orang berani mendatangi Alas Purwo Banyuwangi karena keangkeran dan kemistisan yang begitu lekat. Jika Anda penasaran dengan lokasi ini, ada baiknya lakukan persiapan matang dengan meminta pendapat dari masyarakat lokal agar tidak salah langkah.

Mengenal Sosok Gaib Penunggu Gunung Merapi

Gunung Merapi

Kawasan Gunung Merapi berada di perbatasan Magelang Yogyakarta. Gunung yang terkenal dengan kegagahannya tersebut pernah menggegerkan masyarakat sekitarnya dengan letusannya yang paling ngeri selama ini yaitu tahun 2010 lalu. Meskipun demikian, ternyata Gunung Merapi juga merupakan salah satu gunung yang banyak dijadikan sebagai wahana pendakian. Namun siapa sangka gunung yang terkenal dengan keindahannya itu menyimpan banyak sekali kisah-kisah misteri dunia gaib di dalamnya. Di antara misteri dunia gaib Gunung Merapi yang membuat bulu kuduk merinding adalah kisah makhluk halus sebagai penunggu gunung merapi yaitu Nyai Gadung Melati, Eyang Sapu Jagad, dan Kyai Petruk.

Berbagai cerita hal keangkeran  Gunung Merapi memang tidak akan ada habisnya. Karena menurut mitos yang beredar di masyarakat, Gunung Merapi adalah pusatnya keraton Jin di Indonesia. Salah satunya adalah mengenai mitos Nyai Gadung Melati yang merupakan penunggu Gunung keraton Merapi dan sebagai pimpinan wanita di keraton tersebut.

Nyai Gadung Melati akan hadir dalam mimpi masyarakat lereng Merapi. Dirinya akan menampakkan dirinya sebagai perempuan yang sangat cantik parasnya. Misteri dunia gaib Nyai Gadung Melati diabadikan di museum Vulkanologi yang terdapat arca Nyai Gadung Melati. Konon kabarnya Nyai Gadung Melati dikutuk menjadi arca oleh seorang lelaki yang bernama Ki Ageng Sukuh. Beliau merasa dikhianati tidak jadi dijadikan sebagai suami Sang Nyai setelah permintaannya untuk membuat taman dan perairan sampai ke pekarangan rumah sang Nyai terpenuhi.
Batu Alien

Karena hal tersebut, ki Ageng Sukuh marah dan mengutuk Nyai Gadung Melati menjadi arca. Masyarakat setempat percaya bahwa roh dari Nyai Gadung Melati masih hidup dan sangat menyayangi masyarakat lereng Merapi. Hal ini dibuktikan dengan sosoknya yang selalu hadir dalam mimpi. Menurut kepercayaan masyarakat. Ketika Nyai Gadung Melati hadir dalam mimpi, maka itu pertanda bahwa sebentar lagi merapi akan meletus.

Tokoh misteri dunia gaib merapi yang juga sangat melekat di hati masyarakat sekitar Gunung Merapi yang berikutnya adalah Eyang Sapu Jagad. Eyang sapu Jagad ini dipercaya sebagai penunggu dan penjaga kawah Gunung Merapi. Beliaulah yang bertugas menentukan iya dan tidaknya kawah merapi meletus. Biasanya beliau akan memberitahukannya melalui juru kunci merapi.
Asal-usul dari eyang sapu jagad ini konon kabarnya merupakan sebuah endhog (telur) yang diberikan kepada Juru Taman oleh Panembahan Senopati. Akhirnya Ki Juru Taman memakannya dan berubah menjadi raksasa yang mengerikan. Kemudian atas perintah Panembahan Senopati, raksasa tersebut menjadi penunggu gunung Merapi dengan sebutan Eyang Sapu Jagad. Dalam tugasnya Eyang Sapu Jagad dibantu oleh Kyai Grinjing Wesi dan Kyai Grinjing Kawat.

Gunung Merapi memang banyak sekali menyimpan kisah misteri dunia gaib. Ada lagi sosok mistis lain yang disebut Kyai Petruk. Kyai Petruk adalah penjaga gunung Merapi yang sangat fenomenal pada saat peletusan Merapi di tahun 2010. Asap letusan gunung merapi yang membumbung tinggi dan membentuk segumpalan asap yang mirip dengan tokoh Petruk dalam dunia pewayangan ini.
Mitos yang beredar di tengah masyarakat apabila telah muncul asap yang menyerupai tokoh petruk tersebut, maka berarti Kyai Petruk sebagai makhluk halus penjaga Merapi telah memberi isyarat bahwa Merapi akan meletus dengan letusan yang besar. Dan benar, tahun 2010 Merapi meletus besar-besaran. Sampai sekarang Kyai Petruk dipercaya sebagai pemberi wangsit atau pertanda kapan Merapi akan meletus dan juga memberi saran terhadap masyarakat agar selamat dari letusan Gunung Merapi.

Misteri dunia gaib sebenarnya selalu ada di sekitar kita. Namun semua tergantung seberapa besar kita mempercayainya. Selain 3 makhluk halus penjaga Gunung Merapi tersebut, masih banyak makhluk halus lainnya dan tempat-tempat angker di Gunung Merapi dan sekitarnya. Hal ini maklum saja, karena Gunung Merapi terkenal sebagai pusat kerajaan jin di Indonesia yang masih berhubungan kerajaan laut panti Selatan.  Benarkah?

Makna Dibalik Pertunjukan Wayang Bagi Masyarakat Jawa

Pertunjukan Wayang Kulit S udah banyak ilmuwan budaya yang mendefinisikan pertunjukan wayang. Setiap definisi yang ditawarkan, tidak a...