![]() |
| Pertunjukan Wayang Kulit |
Sudah banyak ilmuwan budaya yang mendefinisikan pertunjukan
wayang. Setiap definisi yang ditawarkan, tidak ada satu pun yang bersifat
mutlak, bergantung dari aspek mana si ilmuwan memaknai pertunjukan wayang,
apakah dari aspek literal, kultural atau spiritual.
Namun ada satu kesepakatan dari alam bawah sadar yang tidak
dapat diganggu gugat, bahwa pertunjukan wayang merupakan pertunjukan teater
tradisi Jawa yang memainkan bayang-bayang. Tidak peduli apakah dinikmati dari
depan maupun belakang kelir.
Van der Tuuk dan Brandes menyalin prasasti tembaga yang
ditemukan di Bali, hasil salinan menunjukkan prasasti tersebut berasal dari
tahun 1058 M, di dalamnya tertulis "...hanabawal atapukanaringgit".
Kata ringgit hingga saat ini masih menjadi sinonim dari wayang (Sri
Mulyono,1982).
Secara lebih mendetail, Timbul Haryono, 2008, menyatakan
bahwa pertunjukan wayang telah muncul sejak abad 9 M. Dapat ditelusuri melalui
prasasti Kuti 840 M yang memuat istilah 'haringgit'. Sementara padanan kata
untuk 'ringgit' bisa dijumpai di prasasti Tajigunung 910 M.
Di dalam prasasti Tajigunung, istilah 'haringgit' digunakan
secara bergantian dengan 'awayang'. Informasi lebih lengkap terkait wayang,
dihadirkan oleh prasasti Wukajana dari abad 10 yang menuliskan kalimat
"...mawayang bwat hyang" (Timbul Haryono, 2008).
Berdasarkan teknis penyajian pertunjukan wayang yang penuh
dengan kompleksitas, maka sudah tepat Jan Mrazek, seorang peneliti wayang dalam
kaitannya dengan media teknologi dari NUS (National University of Singapore),
menyatakan bahwasanya:
"...wayang is the most important and highest form of
Javanese art, one that express central tenets of Javanese culture and
worldview, and they celebrate the 'multimedia' nature of wayang, the way it
combines painted and carved puppets, verbal arts, complex movement, and
music." (Jan Mrazek & Morgan Pitelka, ed, 2008, What's The Use of Art?
Asian Visual and Material Culture in Context).
Berikut terjemahan bebas kalimat di atas: Wayang adalah
bentuk seni Jawa yang tertinggi dan paling penting, yang mengekspresikan
prinsip sentral budaya dan pandangan dunia Jawa. Dan mereka merayakan sifat
'multimedia' wayang dengan cara menggabungkan wayang yang dilukis dan diukir,
seni verbal, gerakan kompleks dan musik.
Sri Mulyono, yang mengutip dari Over de Oorsprong van Het
Javaansche Tooneel, 1931, W.H. Rassers, percaya bahwa wayang adalah pertunjukan
ajaib. Sebuah sintesa kebudayaan manusia yang tidak mungkin dijumpai di belahan
dunia lain.
Terkait fungsi, pertunjukan wayang yang lebih komperhensif,
Douglas Storey, 2009, dalam artikelnya di Asian Journal of Communication
berjudul Mythology, Narrative, and Discourse in Javanese Wayang Towards
Cross-Level Theories For The New Development Paradigm, menguraikan pertunjukan
wayang ke dalam wilayah: Hiburan, edukasi/Propaganda, ritual/upacara, ekspresi
kebudayaan, transmisi sosial/sosialisasi dan koneksi sosial.
Douglas Storey mendasarkan rumusan fungsi pertunjukan wayang
pada pendapat jalinan makna budaya, bahasa dan kebiasaan yang diajukan Geertz,
serta anggapan citra wayang sebagai refleksi pengetahuan budaya dan ideologi
yang diajukan Mangkunegara dan Ben Anderson. Lebih lanjut lagi, Franz Magnis
Suseno, 1982, menulis bahwa wayang merepresentasikan keambiguan dan beragam pertentangan
dalam hidup.
Nicola Levell menyebut, puppets are storytellers and
transporters. They bring the past into present. The supernatural into the real.
The satirical into the social sphere in a playful way. Yang kira-kira, begini
terjemahan bebasnya: wayang adalah pendongeng dan pengangkut. Mereka membawa
masa lalu ke masa kini. Membuat supernatural menjadi nyata. Ia menyampaikan
satir ke ranah sosial dengan cara yang menyenangkan.
Apabila ditarik simpulan dari semua pendapat tentang fungsi
pertunjukan wayang di atas, maka hasilnya akan bermuara menuju kesadaran bahwa
pertunjukan wayang merupakan memori penyimpanan kebudayaan masyarakat Jawa dari
masa lampau, yang terus-menerus bermutakhir sesuai jalannya peradaban.
Tak sebatas memori penyimpanan, akan tetapi sebuah sistem
yang melekat pada ruang material dan immaterial masyarakat Jawa. Sehingga kalau
ditautkan terhadap sebuah konstruksi komputer atau laptop, pertunjukan wayang
bukanlah hard disk, melainkan motherboard.
Pertunjukan wayang lazimnya pertunjukan teater modern,
bersifat aktif serta responsif. Merekam serta melakukan koreksi atas berbagai
peristiwa sosial, ekonomi, politik, lingkungan, hingga mistik. Namun, pertunjukan
teater modern tidak akan mampu menyerupai teknik komunikasi layaknya
pertunjukan wayang, yang sanggup melintasi sekat dimensi sosial bahkan dimensi
kehidupan antarmakhluk.
Merujuk pada statement Ki Mantep bahwa pakem bukan harga
mati. Maka boleh saja pertunjukan wayang dimodifikasi, melahirkan jenis-jenis
pertunjukan wayang kontemporer yang nganeh-anehi, seperti adanya Wayang Bocor,
Wayang van Java, Wayang Komik dan lain sebagainya.
Kehadiran rupa-rupa kontemporer tersebut nyatanya tidak
pernah mampu menjadi representasi sejati masyarakat dan hanya bertahan dalam
satu kurun waktu momentum belaka. Semata mengemas estetika wayang yang
diselaraskan terhadap tuntutan modernisme, tapi melupakan unsur paling mendasar
pertunjukan wayang, yakni peran pertunjukan wayang selaku indikator sekaligus
motherboard budaya Jawa.
Di dalam rangkaian utuh pertunjukan wayang, bisa dilihat
sebuah garis kronologis imajiner peradaban masa Jawa kuno yang berharmoni
dengan masa Jawa modern saat ini. Mulai dari bahasa, guyonan, sampai tata cara
bersikap, pertunjukan wayang menyimpan semua anasir kebudayaan di masing-masing
peradaban.
Mungkin contoh yang paling tepat untuk mewakilkan pernyataan
di atas adalah pertunjukan wayang Ki Seno Nugroho. Secara pribadi. saya menilai
sajian wayang Ki Seno berbeda sekali dengan teknis penyajian Ki Sudjiwo Tejo
yang, entah sengaja atau tidak, semata menyasar kawula muda, merombak tatanan
pakem cerita wayang, lalu membuat sanggit secara ekstrem sehingga agak kurang
digemari orang-orang tua.
Sedangkan Ki Seno menghadirkan pertunjukan wayang yang
benar-benar seimbang. Ia tahu di mana harus menempatkan 'kebaruan' dan di mana
menempatkan pakem tatanan. Hasilnya, Ki Seno diterima oleh banyak kalangan,
baik dari kawula muda maupun orang-orang usia tua.
Menjaga pertunjukan
wayang
Seperti yang telah dikemukakan, pertunjukan wayang menyimpan
ingatan kolektif kebudayaan masyarakat Jawa. Orang boleh lupa bagaimana cara
hidup yang berbudaya Jawa, namun orang tidak perlu khawatir akan kelupaan-nya,
karena bisa sewaktu-waktu mengakses memori kebudayaan yang terlupa dengan cara
menonton motherboard (pertunjukan wayang).
Layaknya kain yang senantiasa kering, itulah wayang.
Menyerap dan lalu menyimpan segala macam ideologi serta budaya masyarakat.
Tidak percaya kalau pertunjukan wayang juga menyimpan ideologi? Cari saja di
internet pertunjukan wayang yang digelar PKI pada tahun 50'an dengan membawa
lakon Gusti Sampun Seda (Geertz, 2014).
Oleh karena pertunjukan wayang menyimpan bahasa, etika,
ideologi, spiritual, teknologi dan budaya Jawa, maka pertunjukan wayang juga
berposisi sebagai 'sumber air' kebudayaan Jawa. Seandainya pertunjukan wayang
terlalu dimodifikasi dan mencampakkan pakem-pakemnya, bukan tidak mungkin hal
itu menjadi tanda bahwa budaya Jawa mengalami destruksi.
Selebihnya, andaikata pertunjukan wayang tidak lagi ada,
maka itu adalah tanda pasti matinya intelektualisme kebudayaan Jawa. Melalui
maraknya penggunaan Youtube dan sosial media, para dhalang secara cerdik
mengunduh pertunjukan wayang yang ia mainkan. Atas dasar tujuan ingin
mengamankan motherboard budaya Jawa. Sehingga dapat diakses sewaktu-waktu oleh
masyarakat Jawa yang ingin mengakses isi motherboard budaya Jawa itu.
Tanpa adanya tindak preventif semacam itu, bisa jadi
masyarakat sama sekali kehilangan jejak akan kebudayaannya sendiri. Menjaga
pertunjukan wayang tidak hanya menjadi tanggung jawab dhalang beserta kru, akan
tetapi tanggung jawab masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jawa,
seutuhnya.

No comments:
Post a Comment